Diklat Kepemimpinan “Makna Bersikap Menjadi Pejabat Yang Jujur, Transparan dan Berwibawa”

By: Taf Chaniago

TI – Setiap pejabat di negeri ini harus selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik, santun, ramah serta menghargai apa yang di sampaikan warga, saat menginginkan pelayanan prima.

Diharapkan, di era keterbukaan informasi pubrik, masyarakat dapat benar-benar dilayani dengan santun, jujur dan transparan.

Oleh karena itu, setiap Pejabat dalam melalui berbagai proses untuk menduduki suatu jabatan, salah satunya dapat mengikuti “Diklat Kepemiminan”. Yang bertujuan agar pejabat tersebut dapat memahami dan mengetahui akan segala kekurangannya selama ia memberikan pelayanan kepada publik, sebelumnya.

Kita ketahui bersama, bahwa setiap orang yang menerima gaji yang berasal dari dana APBN dan APBD, merupakan pelayan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat mesti di layani dengan pelayanan yang santun dan prima.

Jadi, salah satu manfaat penting Diklat Kepemimpinan ini yaitu, dapat membentuk karakter pribadi para pelayan ataupun pejabat publik kearah yang lebih baik, selama dan dalam mengabdikan diri di tengah tengah mesyarakat. Serta dapat menjadi contoh panutan bila pejabat itu mengimplementasikan kepada masyarakat, dan juga dalam dirinya seputar apa yang di terima selama dalam pembelanjaran di Diklat Kepemimpinan tersebut.

Seperti penulis sendiri, mengikuti Diklatpim IV, Pola Baru, di lingkungan Pemerintah Kota Padang di Badan Pendidikan dan Latihan Provinsi Sumatera Barat, Padang Besi. Selama mengikuti Diklat ini, cukup banyak ilmu serta pengalaman berharga yang didapat dan diserap. Antara lain, pembelajaran dalam menambah wawasan tentang bagaimana cara memimpin, baik di kantor tempat bertugas maupun di lingkungan tempat kita tinggal, cara melayani publik, dan sebagainya.

Perlu juga penulis sampaikan bahwa selama di Diklapim, kita dilatih berbagai cara bersikap yang santun dalam memimpin dan melayani. Terutama sekali, bagaimana cara menghargai dan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Didiklat ini, semua itu dimulai dari subuh, melaksanakan shalat subuh berjamaah, setelah itu berolah raga, lalu mandi, yang dilakukan tepat pukul 07.00 WIB, serta  sarapan pagi bersama.

Sebelum makan di awali berdoa. Setelah sarapan selesai, lalu apel bersama sambil mengitung jumpa peserta, apakah sudah cukup atau masih kurang. Apabila masih kurang, maka di tunggu hingga jumlah peserta lengkap, barulah apel pagi dapat di laksanakan. Selanjutnya, disini juga di utamakan rasa kebersamaan, saling mengingatkan, tidak ada istilah salah menyalahkan.

Sebagai pengalaman yang cukup terkesan, penulis sendiri pernah mendapat sangsi ringan akibat terlambat datang saat mengikuti apel pagi. Adapun sangsi tersebut, yakni dengan berkata kepada peserta lain, “Jangan Tiru Saya”. Artinya, di lain hari jangan pernah terlambat lagi serta dapat menjadi contoh bagi peserta lainnya agar tidak terlambat. Semua itu, bertujuan untuk menegakan disiplin diri dan tanggung jawab terhadap diri sendiri dan kelompok.

Sebagai Pejabat, kita di tuntut untuk kreatif dan inovatif dalam melaksanakan tugas di pemerintahan. Tidak boleh loyo, malas, apalagi tidak bersemangat atau tidak ada inisiatf diri dalam memajukan sebuah organisasi.

Pada Diklat Kepemimpinan, pada prinsipnya dapat merubah pola pikir menjadi lebih berwawasan, harus tetap maju dalam menatap hari esok. Disini kita di ajarkan bahwa disetiap pekerjaan apa saja dalam hal positif, harus memilki perencanaan awal untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Karena dengan metode seperti ini, tentu hasilnya akan lebih baik pula.

Perlu kita fahami bahwa hidup dapat dilalui dengan sejahtera, dan kesuksesan akan dapat diraih bila semua pekerjaan di awali dengan perencanaan yang matang, tersistem dan tawakal. Semoga penuturan tulisan ini yang ter-inspirasi dari Diklat Kepemimpinan, bermanfaat bagi anda dan kita semua.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *